Berfikir Terbalik

Terkadang kalau kita mau sedikit mencermati film2 made in Hollywood sering sekali saya sendiri tercengang. Cerita2 yang ditawarkan terkadang diluar pikiran liar saya sekalipun, inikah efek dari seriusnya para sineas barat mencari ide sebuah film. Kalau boleh jujur kalau di bandingkan dengan sinetron kita sangat jauh. Sinetron Indonesia alurnya sangat mudah di tebak, dan kalau ratingnya bagus, cerita bisa berkembang biak semau produsernya.

The Curious Case of Benjamin Button Poster
The Curious Case of Benjamin Button Poster

Kalau anda belum yakin, jika anda sebagai wartawan infotainment. Ketika ada release sinetron baru, cobalah tanya endingnya akan seperti apa. Kebanyakan pasti akan gamang, karena ending cerita berdasar rating. Ups… kok malah membahas sinetron, kembali ke Film Holywood tadi. Tadi di chanel HBO ada film yang dibawakan sama Brad Pitt. Kalau mau jujur ceritanya sih biasa, cerita umumlah. Tapi ada yang sangat unik disini. Yaitu konsep berfikir terbalik kalau saya bilang seperti itu.

O iya judulnya film The Curious Case of Benjamin Button film tahun 2008. Semua cerita umum ala amerika, kecuali sang tokoh utama si Benjamin yang diperankan Brad Pitt. Ceritanya si Brad Pitt ini lahir sebagai dengan tampilan dan penyakit fisik orang yang sangat tua yang ibunya sendiri meninggal setelah melahirkan si Benjamin ini. Akhirnya benjamin dirawat disebuah panti jompo. Sampai dia dewasa. Menariknya adalah si Benjamin ini selama hidup tidak semakin tua, tapi semakin muda. Jadi ketika dia akhirnya bertemu dengan seseorang yang tepat di hatinya Daisy (diperankan Cate Blanchett) namanya. Mereka jatuh cinta yang akhirnya mempunyai seorang anak.

Seperti yang saya sebutkan tadi, konsep berfikir terbalik dalam cerita itu, ketika yang lain semakin tua, tidak dengan Benjamin. Benjamin semakin muda bahkan sewaktu Daisy sudah nenek2, si Benjamin semakin muda menjadi anak kecil umur 10 tahun. Tapi disini cerdasnya sineas Hollywood. Ketika fisik semakin muda tadi, akan tetapi daya ingat si Benjamin melemah seperti halnya seorang Jompo. Mulai tidak mengenal orang lain (termasuk Daisy) akhirnya Daisy dengan sabar mengunjungi Benjamin Tiap hari.

Endingnya pun tergolong mengharukan (bukan menyedihkan) bagaimana si Benjamin meninggal dalam dekapan Daisy, Benjamin meninggal seperti halnya bayi berumur kurang dari 1 tahun yang dinina bobokkan ibunya. Sangat menyentuh. Bagaimana seorang yang dulunya kekasihnya meninggal dengan fisik bayi di pangkuannya.

Kisah film ini yang lebih membuat menarik karena di ceritakan kembali. Jadi ceritanya si Daisy yang sudah sakaratul maut atau lemah sekali, meminta anaknya (Anak Benjamin dan Daisy) untuk membacakan Buku Diary Benjamin. Buku Diary ini didapatkan Daisy pasca meninggalnya suaminya, Daisy dapat telpon kalau ada anak kecil yang membawa diary dan di sana nama Daisy sering disebut2. Ndelalah, ketika Daisy coba konfirmasi ke Benjamin yang telah menjadi anak umur 10 tahun ini mulai pikun, dia sudah tidak ingat siapa itu Daisy. Sungguh Ide sederhana yang sangat briliant. Itulah salah satu konsep Berfikir Terbalik yang saya tangkap.

Terkadang suatu masalah, bisa kita selesaikan dengan sisi yang berbeda. Pandangan berbeda, langkah berbeda, dan juga penanganan berbeda. Saya jadi inget tulisan Kyai Slamet tentang Gebyah Uyah yang lalu

0 thoughts on “Berfikir Terbalik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *