Di tengah padatnya rutinitas merampungkan baris-baris kode untuk pengembangan aplikasi TULISEN, saya sering kali merasa waktu 24 jam sehari itu menguap begitu saja. Terkadang, niat hati hanya ingin beristirahat sejenak dari layar dengan menggulir lini masa media sosial, eh tahu-tahu satu jam sudah berlalu tanpa bekas.
Baru-baru ini, saya menyimak sebuah refleksi yang sangat mendalam dari channel Wigo SP. Ia bercerita tentang penyesalannya menghabiskan 5.000 jam (setara 2,5 tahun kerja kantoran full-time) hanya untuk bermain game. Dari pengalaman kosong tersebut, ia merumuskan 3 pelajaran tentang waktu yang anehnya tidak pernah kita dapatkan di bangku sekolah mana pun.
Bagi kita yang sering merasa selalu sibuk namun hidup seolah jalan di tempat, mari kita bedah ketiga pelajaran penting ini.

1. Waktu Tidak Punya “Alarm” Rasa Sakit
Pernahkah Anda menyadari bahwa tubuh kita punya sensor yang sangat hebat untuk segala hal, kecuali untuk waktu? Jika Anda tidak makan seharian, perut Anda akan berteriak perih. Jika saldo rekening Anda tersisa Rp50.000, jantung Anda akan berdebar panik memikirkan cara bertahan hidup. Tubuh dan pikiran memberikan “alarm” yang sangat jelas.
Namun, saat Anda membuang waktu 4 jam untuk scrolling video pendek tanpa tujuan, tidak ada rasa sakit yang muncul. Tidak ada alarm yang berbunyi di kepala. Anda hanya merasa rileks, nyaman, dan tiba-tiba bergumam, “Loh, kok sudah malam ya?”
Inilah yang membuat waktu jauh lebih berbahaya daripada uang. Uang yang habis bisa dicari lagi dengan rasa urgensi. Tapi waktu yang hilang akan lewat begitu saja, sering kali dibungkus dengan pembenaran di kepala kita: “Cuma buat refreshing kok,” atau “Nunggu mood bagus dulu.” Kesadaran itu biasanya baru menghantam 5 atau 10 tahun kemudian saat kita melihat orang seumuran sudah melesat jauh, sementara kita harus mulai dari nol.
2. Waktu yang “Menguras” vs Waktu yang “Mengisi”
Kita sering mengira membuang waktu itu sama bentuknya. Padahal, ada dua jenis waktu yang efeknya bertolak belakang bagi mental kita:
- Waktu yang Menguras: Aktivitas ini terasa sangat nikmat di awal karena memberikan dopamin instan, tapi meninggalkan rasa kosong dan lelah di akhir. Contohnya: scrolling Instagram berjam-jam, nongkrong hanya untuk bergosip, atau maraton serial TV. Setelah selesai, mata Anda pegal, muncul rasa insecure, dan tidak ada skill baru yang bertambah.
- Waktu yang Mengisi: Aktivitas ini kebalikannya, terasa berat, malas, dan penuh penolakan di awal. Tapi setelah Anda memaksakan diri menyelesaikannya, Anda merasa lebih jernih, bangga pada diri sendiri, dan merasa berkembang. Contohnya: berolahraga 30 menit, menulis jurnal, atau belajar skill baru. Badan mungkin lelah, tapi batin terasa penuh.
Rumus praktisnya: Setelah Anda selesai melakukan suatu aktivitas selama satu jam, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya merasa lebih penuh atau lebih kosong?” Jika jawabannya kosong, kurangi durasinya secara drastis mulai besok.
3. Waktu Paling Berharga Adalah Saat Anda “Hadir”
Di sekolah, kita didoktrin bahwa waktu yang paling berharga adalah waktu yang produktif—saat kita menyelesaikan banyak tugas, mengejar deadline, atau mencetak prestasi. Namun, realitas kehidupan tidak bekerja seperti itu.
Wigo menyadari bahwa dari 5.000 jam bermain game, tidak ada satu pun memori bermakna yang ia ingat. Semuanya buram. Sebaliknya, ia sangat mengingat momen-momen kecil saat ia merenung, berolahraga sambil merasakan setiap tarikan napas, atau mengobrol dari hati ke hati dengan keluarganya tanpa melihat smartphone.
Mengapa? Karena di momen-momen itulah ia benar-benar hadir secara utuh (fully present).
Kita bisa bekerja sangat produktif 10 jam di depan laptop setiap hari, tapi jika pikiran kita melayang ke mana-mana dan mengabaikan orang-orang di sekitar kita, kita sebenarnya sedang “sibuk tapi kosong.” Produktif tanpa kehadiran jiwa sama saja dengan menjadi robot.
Catatan Penutup
Mulailah hari ini dengan sebuah eksperimen kecil. Sediakan waktu 30 menit saja di mana Anda tidak menuntut diri untuk “produktif”, melainkan hanya menuntut diri untuk “hadir”. Olahragalah tanpa membawa HP, ngobrollah dengan menatap mata lawan bicara tanpa distraksi layar, atau duduklah diam selama 10 menit mensyukuri napas Anda.
Karena pada akhirnya, kualitas hidup kita tidak diukur dari seberapa banyak waktu yang kita habiskan, melainkan dari seberapa banyak momen di mana jiwa kita benar-benar hadir di dalamnya.
(Catatan: Rangkuman perenungan ini diadaptasi dari pemaparan mendalam Wigo SP. Jika Anda ingin menyimak monolog dan ceritanya secara utuh, silakan tonton video aslinya di sini: 3 Pelajaran Soal Waktu yang Gak Pernah Diajarkan di Sekolah).








