Alasan YouTuber Ini Hapus ChatGPT Demi Claude (Panduan Belajar AI dari Nol)

By

Jauhari

10 April 2026, 07:05 WIB

Sebagai seorang praktisi digital, keseharian saya saat ini tidak bisa lepas dari Artificial Intelligence. Jika Anda mengintip browser di laptop saya, Anda akan menemukan berbagai tab yang terbuka berdampingan: Gemini, ChatGPT, Claude, hingga Grok. Saya memegang prinsip multi-tools—memanfaatkan masing-masing AI sesuai dengan kekuatan spesifik mereka.

Namun, beberapa hari lalu saya dibuat tercengang oleh sebuah pernyataan berani dari Agusleo Halim di channel YouTube-nya. Ia secara terang-terangan mengaku sudah “menghapus” dan meninggalkan ChatGPT untuk beralih sepenuhnya ke satu tools yang menurutnya jauh lebih superior: Claude AI.

Multi-Tools AI dan Evolusi Claude - Nurudin Jauhari
Layar monitor yang menampilkan berbagai tools AI dengan fokus pada Claude AI, merepresentasikan pilihan tools saat belajar AI dari nol untuk otomatisasi kerja

Bagi Anda yang saat ini sedang belajar AI dari nol di tahun 2026, membedah alasan dan cara kerja Agusleo menggunakan Claude adalah sebuah studi kasus yang sangat mahal. Mari kita lihat apa yang membuat kreator ini rela meninggalkan ChatGPT.

1. AI yang Terasa Seperti Teman Brainstorming

Agusleo menceritakan bahwa perkenalan mendalamnya dengan Claude dipicu oleh sebuah podcast dari Seth Godin. Menurut Godin, ChatGPT sering kali terasa “sombong, arogan, dan malas”, sedangkan Claude dirancang untuk terasa seperti “sahabat yang peduli”.

Saat diuji coba, UI/UX (tampilan antarmuka) Claude memang terlihat lebih estetik dan gaya bahasanya terasa lebih condong ke arah diskusi (brainstorming) yang memanusiakan pengguna, bukan sekadar bot yang memberikan jawaban instan.

Menariknya, bagi kita yang sedang belajar AI dari nol dan malas memindahkan data dari ChatGPT, Agusleo menunjukkan satu fitur tersembunyi. Lewat menu Capabilities di Settings Claude, kita bisa meminta Claude untuk mengimpor “ingatan” atau custom prompt dari ChatGPT. Jadi, Claude bisa langsung mengenali gaya kerja Anda tanpa perlu diajari dari awal.

2. Fitur “Cowork”: Sihir Otomatisasi Pekerjaan

Alasan terbesar Agusleo berlangganan Claude versi Pro adalah fitur bernama Cowork. Ini bukan lagi sekadar kolom chat, melainkan ruang kerja virtual di mana Claude bertindak sebagai rekan kerja sungguhan. Agusleo mendemonstrasikan beberapa use case yang membuat saya sendiri geleng-geleng kepala:

Membuat Landing Page “One-Shot”

Dengan satu baris instruksi (prompt), Agusleo meminta Claude membuat kode untuk sebuah landing page penawaran. Hasilnya? Kode front-end yang rapi langsung tercipta dan bisa langsung di-preview di sidebar kanan Claude tanpa perlu membuka aplikasi pihak ketiga.

Audit Media Sosial (AI yang Menggerakkan Kursor)

Ini bagian yang paling gila. Agusleo memanggil Claude versi desktop dan memintanya menjadi Social Media Strategist untuk mengaudit akun Instagram pribadinya. Secara mengejutkan, Claude menggerakkan layar Agusleo! AI tersebut men-scroll layar secara mandiri, mengeklik menu, menganalisis data, dan akhirnya merangkum laporan audit lengkap dengan saran perbaikan konten.

Menggantikan Peran “Middle Management”

Agusleo berpendapat bahwa profesi yang paling terancam AI saat ini adalah Middle Management (Manajemen Menengah). Ia membuktikannya dengan menyuruh Claude membuat Dashboard Command Center. Dalam sekejap, Claude menyusun alur kerja tim, membagi tugas (task management), dan membuat template laporan harian yang sangat detail.

3. Trik Konten untuk Pemula

Bagi Anda yang masih belajar AI dari nol dan beralasan “tidak punya skill desain”, Agusleo mematahkan alasan tersebut.

Ia mempraktikkan cara mengambil transkrip mentah dari video YouTube yang viral, lalu menyuapkannya ke Claude dengan perintah: “Ubah teks ini menjadi 7 slide Instagram Carousel”. Claude tidak hanya merangkum teksnya, tapi juga membagi struktur konten menjadi Tofu, Mofu, Bofu (skema marketing funnel). Teks matang tersebut tinggal dilempar ke Canva untuk eksekusi visual.

Catatan Pribadi Saya

Setelah melihat demonstrasi gila dari Agusleo, apakah saya akan langsung menghapus ChatGPT, Gemini, atau Grok? Tentu tidak. Saya masih sangat menikmati fleksibilitas menggunakan berbagai tools (seperti Grok untuk analisis data real-time Twitter, atau Gemini untuk ekosistem Google).

Namun, saya harus mengakui bahwa apa yang ditawarkan Anthropic melalui Claude AI saat ini—terutama kemampuan Cowork dan integrasi desktop-nya—berada di level yang berbeda untuk urusan manajerial dan creative writing.

Bagi kawan-kawan yang baru mau belajar AI dari nol, mulailah bereksperimen. Jangan hanya gunakan AI untuk bertanya resep masakan. Jadikan mereka asisten pribadi, delegasikan pekerjaan repetitif Anda, dan gunakan sisa waktu Anda untuk fokus pada strategi bisnis.


(Catatan: Tulisan ini adalah rangkuman reflektif dari demonstrasi teknis yang luar biasa oleh Agusleo Halim. Jika Anda ingin melihat langsung bagaimana Claude AI mengendalikan layar dan melakukan “vibe coding”, tonton video aslinya di sini: HAPUS CHATGPT & GEMINI?! | Belajar AI dari 0 di 2026).


Author Image

Author

Jauhari

Abu @YashfaJauhar @ShaffiyaJauha Isteri @IvaFitria tinggal di @DesaPonjong Gunungkidul Yogyakarta Co. Founder NGONOO.com

Related Post

Tinggalkan komentar