Potongan Marketplace Gila-Gilaan! Ini Solusi Bikin Website E-commerce Sendiri

By

Jauhari

20 April 2026, 15:53 WIB

Ilustrasi seorang pengusaha UMKM Indonesia yang sedang memegang kalkulator dan melihat layar laptop dengan wajah stres, merepresentasikan beban potongan marketplace yang besar.
Ilustrasi seorang pengusaha UMKM Indonesia yang sedang memegang kalkulator dan melihat layar laptop dengan wajah stres, merepresentasikan beban potongan marketplace yang besar.

Beberapa waktu lalu, di sela-sela rutinitas saya mengembangkan fitur-fitur untuk aplikasi KONTEN KREATOR UNITED, saya sering diajak berdiskusi oleh teman-teman sesama pengusaha UMKM. Keluhan mereka rata-rata sama: “Margin keuntungan sekarang habis dimakan oleh biaya layanan marketplace yang makin mencekik!”

Memang benar, marketplace yang dulu mengiming-imingi kita dengan lapak gratis dan subsidi ongkos kirim besar-besaran, kini mulai “menagih utang”.

Baru-baru ini, saya menyimak video analisis yang sangat relatable dari David Alfa Sunarna. Ia membongkar sebuah fakta pahit: potongan marketplace saat ini ada yang sudah mencapai 45%! Bayangkan, jika omzet bisnis Anda Rp1 Miliar, Rp400 juta-nya akan hangus hanya untuk biaya potongan dan admin. Ini adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan UMKM.

Bagi Anda yang sudah mulai menyadari bahaya dari ketergantungan pada marketplace, mari kita bedah solusi dan strategi shifting ke website e-commerce milik sendiri.

Jangan Bangun Bisnis di Atas Tanah Orang Lain

Sebuah mindset dasar yang harus kita sadari: Marketplace itu ibarat sebuah mal. Ia adalah jalur penjualan (sales channel), bukan rumah utama (home base) dari brand Anda. Jika aturan mal berubah—biaya sewa naik, atau produk pesaing yang lebih murah tiba-tiba diiklankan tepat di atas produk Anda—Anda tidak bisa berbuat apa-apa.

Itulah mengapa memiliki website e-commerce sendiri adalah sebuah keharusan. Anda memegang kendali penuh atas data pelanggan, tampilan, promosi, dan yang terpenting: Anda terbebas dari potongan biaya layanan yang tidak masuk akal.

Banyak yang skeptis dan bertanya, “Tapi gimana cara narik pembeli ke website? Gimana caranya biar orang percaya dan nggak takut ditipu?”

David membagikan strategi transisi yang sangat logis:

  1. Jangan Tutup Toko Marketplace Anda: Tidak perlu gegabah langsung menutup akun Shopee atau Tokopedia Anda. Gunakan mereka sebagai pancingan awal.
  2. Alihkan Secara Halus (Funneling): Setiap kali ada pembeli di marketplace, selipkan brosur atau kartu ucapan di dalam paket. Beri tahu mereka: “Terima kasih sudah berbelanja! Untuk pembelian berikutnya, silakan pesan langsung via website resmi kami dan dapatkan diskon 20% serta gratis ongkir!”
  3. Subsidi Silang: Dari mana dana untuk memberi diskon 20% itu? Tentu saja dari uang potongan 45% marketplace yang berhasil Anda selamatkan! Anda tetap untung, dan pelanggan pun jauh lebih senang karena mendapat harga lebih murah.

Membangun Kepercayaan di Website Sendiri

Di tahun 2026 ini, alasan bahwa “website sendiri tidak meyakinkan” sudah tidak relevan lagi. Teknologi sudah sangat canggih dan mudah diakses oleh UMKM.

Untuk masalah pembayaran dan pengiriman, Anda bisa mengintegrasikan pihak ketiga seperti Payment Gateway (seperti Midtrans, Xendit) dan Aggregator Shipping (seperti Biteship, RajaOngkir). Dengan adanya payment gateway, legalitas dan rekening perusahaan Anda sudah terverifikasi secara otomatis oleh sistem, sehingga pembeli merasa aman. Pembeli bisa melakukan checkout, membayar via Virtual Account atau QRIS, lalu mendapatkan resi pelacakan langsung ke email mereka—persis seperti pengalaman berbelanja di marketplace besar!

Pentingnya Komitmen dalam Membangun Aset Digital

Satu fakta menarik dari pengalaman David saat ia mencoba membuka layanan pembuatan website e-commerce murah (atau bahkan gratis) untuk UMKM adalah: Banyak yang tidak serius.

Ketika sesuatu didapatkan dengan terlalu mudah atau murah, pengusaha cenderung beralasan sibuk, gaptek, dan akhirnya menelantarkan website tersebut. Membangun aset digital seperti website e-commerce itu butuh modal—baik waktu maupun biaya.

Oleh karena itu, bagi Anda yang berniat melakukan shifting, pastikan Anda siap secara komitmen. Bersedialah untuk belajar Search Engine Optimization (SEO) dasar, membangun personal branding di media sosial, dan mengarahkan audiens (melalui tautan bio) langsung ke website Anda.

Membangun loyalitas pada brand (niche market) akan membuat pelanggan mencari nama produk Anda secara spesifik, bukan mencari barang generik yang akhirnya membuat mereka membandingkan harga di marketplace.

Sudah saatnya kita berhenti panik di ujung tanduk. Jangan tunggu sampai margin keuntungan Anda benar-benar nol karena potongan yang terus membengkak. Mulailah membangun “tanah” Anda sendiri dari sekarang!


(Catatan: Rangkuman strategi bisnis e-commerce ini diadaptasi dari pemaparan tajam David Alfa Sunarna. Jika Anda ingin menyimak ulasan lengkapnya atau mencari informasi tentang layanan pembuatan web-nya, silakan tonton video aslinya di sini: Akhirnya bisnis bangun ecommerce gua jalan!).

Author Image

Author

Jauhari

Abu @YashfaJauhar @ShaffiyaJauha Isteri @IvaFitria tinggal di @DesaPonjong Gunungkidul Yogyakarta Co. Founder NGONOO.com

Related Post

Tinggalkan komentar