Cara Agar Percaya Diri: Berhenti “Makan Sampah” (Catatan dari Sabrang MDP)

By

Jauhari

12 April 2026, 16:11 WIB

Ilustrasi seorang pria menonaktifkan notifikasi smartphone di pagi hari untuk menjaga ketenangan pikiran, merepresentasikan cara agar percaya diri dengan memfilter asupan pikiran.
Ilustrasi seorang pria menonaktifkan notifikasi smartphone di pagi hari untuk menjaga ketenangan pikiran, merepresentasikan cara agar percaya diri dengan memfilter asupan pikiran.

Banyak dari kita yang sering merasa ciut, sangat sensitif terhadap penilaian orang lain, dan takut bertindak karena merasa tidak pede. Kita sering bertanya-tanya: bagaimana sih cara agar percaya diri seperti orang-orang yang bisa tampil lepas tanpa peduli omongan orang?

Beberapa waktu lalu, saya menyimak pandangan yang sangat mendobrak dari Sabrang MDP (Noe Letto) mengenai konsep percaya diri.

Menariknya, Sabrang justru tidak terlalu sepakat dengan “konsep percaya diri” itu sendiri. Menurutnya, percaya diri bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan atau dibangun dari luar. Percaya diri hanyalah efek samping dari satu hal: kemampuan kita menjaga dan mengenali “rumah” (diri kita sendiri).

Jika saat ini Anda merasa tidak percaya diri, cemas, atau moody, mungkin akar masalahnya bukan pada mentalitas Anda, melainkan pada apa yang Anda “makan” setiap hari.

Prinsip Garbage In, Garbage Out

Di dunia teknologi (khususnya Artificial Intelligence), ada sebuah pepatah terkenal: Garbage In, Garbage Out (GIGO). Jika data yang dimasukkan ke dalam komputer adalah sampah, maka hasil analisis yang keluar juga berupa sampah.

Sabrang menganalogikan bahwa otak dan jiwa manusia bekerja persis seperti itu. Output emosi Anda—termasuk ketidakpercayaan diri, rasa insecure, dan kecemasan—sangat bergantung pada input yang Anda masukkan.

Masalahnya, “makanan” di sini bukan hanya makanan yang masuk ke mulut (walaupun makanan sehat terbukti secara ilmiah memperbaiki mood dan hormon serotonin). Makanan yang paling berbahaya di era modern ini adalah makanan yang masuk lewat mata dan telinga kita:

  • Doom scrolling (menggulir berita negatif/gosip di media sosial berjam-jam).
  • Berkumpul dengan circle pertemanan yang isinya hanya mengeluh, bergosip, atau menyalahkan keadaan.

Jika setiap hari Anda “makan” konten sampah dan obrolan toksik, jangan kaget jika inner voice (suara batin) Anda menjadi penuh komplain, merasa rendah diri, dan selalu ketakutan akan penilaian orang lain.

Eksperimen Luka Wajah: Persepsi Menentukan Realita

Sabrang menceritakan sebuah eksperimen psikologi klasik tahun 1980. Seseorang didandani dengan make-up wajah cacat/buruk rupa, lalu diminta melakukan wawancara kerja. Tujuannya adalah mencatat apakah pewawancara akan mendiskriminasinya.

Namun, sebelum masuk ruangan, sang periset diam-diam menghapus semua make-up cacat tersebut tanpa sepengetahuan si subjek. Subjek masuk ke ruang wawancara dengan wajah normal, tetapi di otaknya, ia yakin bahwa wajahnya masih cacat.

Hasilnya? Saat keluar ruangan, ia melaporkan bahwa semua pewawancara memandangnya dengan jijik dan mendiskriminasinya! Padahal, pewawancara bersikap sangat netral.

Ini membuktikan bahwa jika kita sudah memasukkan “konsep sampah” ke dalam otak kita (merasa diri jelek, bodoh, korban keadaan), maka kita akan memandang dunia dengan lensa tersebut. Setiap perkataan netral dari orang lain akan kita terjemahkan sebagai hinaan.

Kosong Tapi Isi: Keberanian Berkata “Tidak”

Lalu, bagaimana cara agar percaya diri itu tumbuh natural? Jawabannya: jadilah tuan rumah yang berdaulat atas pikiran Anda.

Sabrang menggunakan istilah “Kosong tapi Isi”. Artinya, jadilah orang yang memiliki pagar mental yang kuat. Tidak semua informasi dari media sosial atau omongan orang boleh masuk ke “rumah” Anda. Belajarlah berani berkata TIDAK.

  • Tidak pada konten yang membuat Anda resah.
  • Tidak pada obrolan grup yang merendahkan orang lain.
  • Tidak pada circle yang membuat value Anda turun.

Orang Islam diajarkan berpuasa, dan agama lain pun mengajarkan laku tirakat. Inti dari puasa bukanlah sekadar menahan lapar, melainkan melatih “otot penolakan” di dalam diri kita. Jika Anda bisa mengontrol apa yang masuk ke dalam diri Anda, maka output Anda pun akan terkontrol.

Kesimpulan: Percaya Diri Adalah Penerimaan

Pada akhirnya, percaya diri itu bukan tentang berusaha tampil hebat atau menutupi kekurangan. Percaya diri adalah hasil ketika Anda sudah tahu betul isi “rumah” Anda. Anda tahu di mana letak kelebihannya, dan Anda tidak malu mengakui di mana letak kelemahannya.

Orang yang takut (tidak percaya diri) adalah orang yang takut rahasia/kelemahannya terbongkar. Namun, jika Anda sudah menerima kekurangan Anda dan memfilter lingkungan Anda dengan baik, Anda tidak punya lagi rahasia yang perlu ditutupi.

Pilih 150 teman terdekat yang benar-benar menumbuhkan Anda. Setop konsumsi garbage. Jadilah dirimu yang apa adanya, dan orang lain akan otomatis melihatmu sebagai sosok yang sangat percaya diri.


(Catatan: Rangkuman psikologis ini diadaptasi dari pemaparan mendalam Sabrang MDP. Jika Anda ingin menyimak detail analogi dan kebijaksanaan beliau secara utuh, silakan tonton video aslinya di sini: Kenapa Kamu Tidak Percaya Diri (Dan Cara Mengubahnya)).


Author Image

Author

Jauhari

Abu @YashfaJauhar @ShaffiyaJauha Isteri @IvaFitria tinggal di @DesaPonjong Gunungkidul Yogyakarta Co. Founder NGONOO.com

Related Post

Tinggalkan komentar