Membedah Asumsi dan Kenyataan: Mengapa Kita Sering Tertipu Pikiran Sendiri?

By

Jauhari

18 April 2026, 11:47 WIB

Ilustrasi seorang pria dewasa Indonesia yang sedang mengevaluasi data di layar untuk membedakan antara asumsi dan kenyataan dalam mengambil keputusan.
Ilustrasi seorang pria dewasa Indonesia yang sedang mengevaluasi data di layar untuk membedakan antara asumsi dan kenyataan dalam mengambil keputusan.

Pernahkah Anda mengambil keputusan yang berujung pada penyesalan, lalu bergumam, “Ah, aku kira dia bakal…” atau “Kupikir situasinya akan…”?

Kata “aku kira” atau “kupikir” adalah indikasi paling kuat bahwa kita baru saja mengambil keputusan penting hanya berdasarkan sebuah asumsi, bukan kenyataan. Masalahnya, ketika asumsi salah dijadikan fondasi untuk melangkah, hasilnya hampir selalu melenceng dari apa yang kita harapkan.

Beberapa waktu lalu, saya kembali menyimak insight tajam dari Sabrang MDP (Noe Letto) di channel YouTube-nya. Kali ini, ia membedah benang kusut antara asumsi dan kenyataan, serta bagaimana otak kita sering kali mengkhianati kita sendiri karena malas berpikir presisi.

Mari kita bedah pola pikir ini agar kita tidak mudah tertipu—baik oleh lingkungan maupun oleh diri kita sendiri.

Apa Bedanya Asumsi dan Kenyataan?

Secara sederhana, kenyataan adalah fakta aktual yang terjadi. Sedangkan asumsi adalah anggapan atau tebakan kita tentang kenyataan tersebut.

Sabrang memberikan contoh analogi yang menggelitik. Jika ada seseorang yang sering menggaruk pantat, mungkin kenyataannya ia memang menderita penyakit kulit (gudik). Namun, jika besoknya Anda melihat orang lain menggaruk pantat, lalu Anda langsung berkata, “Oh, dia pasti gudikan juga!”—itu adalah asumsi. Belum tentu orang kedua itu sakit kulit; bisa jadi ia hanya gatal karena baru duduk di rumput.

Di sinilah letak bias otak kita. Manusia punya kelemahan fatal: Kita sering menganggap fenomena personal (pengalaman kita sendiri) sebagai fenomena universal (fakta yang berlaku untuk semua orang). Hanya karena kita mengalami sebuah kejadian dengan sebab “A”, kita otomatis berasumsi bahwa setiap kejadian serupa di dunia ini pasti disebabkan oleh “A”. Inilah awal mula segala keruwetan dan konflik dalam hidup maupun bisnis.

Bahaya Asumsi di Era Media Sosial

Ketidakmampuan membedakan asumsi dan kenyataan ini menjadi sangat berbahaya di era digital. Sabrang mencontohkan bagaimana urutan gambar (sequence) bisa dengan mudah memanipulasi asumsi kita.

Bayangkan ada dua gambar:

  1. Anak kecil menangis, lalu orang dewasa datang memberikan segelas air. (Asumsi kita: Orang dewasa itu baik, ia menolong anak yang menangis).
  2. Anak kecil sedang minum air, lalu orang dewasa datang merebut gelas itu hingga si anak menangis. (Asumsi kita: Orang dewasa itu jahat dan kejam).

Hanya dengan menggeser urutan gambar atau potongan video, framing sebuah cerita bisa berubah 180 derajat. Netizen yang tidak memiliki disiplin akal dan kebiasaan “tabayyun” (mencari akar kenyataan) akan langsung menelan asumsi tersebut sebagai kebenaran mutlak. Mereka akan marah, menghujat, dan membuat keputusan berdasarkan ilusi.

Analogi Matematikawan vs Insinyur: Kapan Kita Harus Bertindak?

Lalu muncul pertanyaan: “Mas, kalau kita mencari kebenaran dan fakta secara absolut terus-menerus, kita malah jadinya diam saja, overthinking, dan tidak berani mengambil keputusan dong?”

Sabrang membagikan cerita analogi yang cerdas antara seorang Matematikawan dan seorang Insinyur (Engineer).

Mereka berdua diberi tantangan untuk mencapai garis finis (jarak 100 meter). Syaratnya: Setiap kali melangkah, mereka hanya boleh maju setengah dari sisa jarak yang ada. (Langkah pertama maju 50 meter, sisa 50. Langkah kedua maju 25 meter, sisa 25, dan seterusnya).

Mendengar syarat itu, si Matematikawan bersedih dan diam saja. Ia tahu secara perhitungan matematis (absolut), ia tidak akan pernah menginjak garis finis karena angka itu akan terus dibagi setengah menjadi tak terhingga (0,0001 mm).

Sebaliknya, si Insinyur (Engineer) gembira dan langsung berlari. Kenapa? Karena ia pragmatis. Ia tahu ia tidak perlu mencapai “kebenaran absolut” hingga angka 0 m. Baginya, jika sisa jaraknya tinggal 10 cm, itu sudah “cukup dekat” untuk bisa meraih tujuannya.

Apa pelajaran dari analogi ini?
Jika Anda menunggu sampai 100% asumsi Anda berubah menjadi fakta yang absolut, Anda tidak akan pernah bergerak. Anda akan terkena Analysis Paralysis. Namun, bertindak hanya dengan modal 0% fakta (murni tebakan) juga adalah sebuah kebodohan fatal (gambling).

Jalan tengahnya adalah: Cari landasan (grounding) kenyataan dari asumsi Anda sebanyak mungkin. Jika sudah cukup data (misalnya 80% fakta dan 20% sisa asumsi probabilitas), melangkahlah!

Catatan Pribadi

Sebagai praktisi yang sering mengambil keputusan strategis, nasihat Sabrang ini menjadi pengingat yang keras. Kita tidak boleh gengsi untuk merevisi atau membuang asumsi kita jika bukti di lapangan menunjukkan bahwa kita salah.

Tanyakan pada diri Anda hari ini: Keputusan bisnis, pandangan politik, atau kemarahan yang Anda rasakan hari ini, apakah itu semua benar-benar berdasarkan kenyataan yang teruji? Atau jangan-jangan, selama ini Anda hanya menjadi wayang yang digerakkan oleh asumsi tak berdasar?


(Catatan: Rangkuman logis ini diadaptasi dari pemaparan mendalam Sabrang MDP. Jika Anda ingin menyimak kebijaksanaan, analogi lengkap, dan celotehan khasnya, silakan tonton video aslinya di sini: Membedah Asumsi dan Kenyataan).

Author Image

Author

Jauhari

Abu @YashfaJauhar @ShaffiyaJauha Isteri @IvaFitria tinggal di @DesaPonjong Gunungkidul Yogyakarta Co. Founder NGONOO.com

Related Post

Tinggalkan komentar