Sadarlah dan Sadarkah Kawan?

Sebagai mahluk Online… sebenarnya privasi kita secara otomatis (kalau ndak mau melindungi) akan di lihat orang lain. Dan bahkan beberapa orang merasa bangga dengan bisa eksis di ranah maya ini. Dulu kita hanya tahu yang mana Google dengan kemampuan mesin pencarinya bisa mencari hal2 yang tidak kita duga. Mencari nama, alamat, nomor telpon dan lain sebagainya. Google bisa. Bahkan tidak sedikit beberapa borok masa lalu seseorang bisa terbukakan oleh Google ini.

Kemudian ranah maya kembali berubah. Google yang tadinya menjadi rujukan (walaupun sekarang juga masih) mulai ada pembanding dengan hadirnya layanan2 Sosial. Yang uniknya layanan ini yang memberikan informasi2 terkadang adalah manusia2 itu sendiri. Contohnya Twitter, Facebook, Googe+, Path, Foursquare dan masih banyak lagi layanan2 sosial bertebaran di ranah maya.

Apa manfaatnya bagiku? atau inilah jalan kehancuranku? atau malah inilah media orang membuka kedok siapa sebenarnya diriku? Semua bisa terjadi.. setidaknya ada proses menuju kesana.

Tipikal orang Indonesia yang penting join ndak mau baca peraturan dan mau setting2 privasi lah yang membuat banyak sekali Warga Indonesia dan tentu saja warga bule yang blunder dengan Media Sosial ini.

Yang membuat hal semacam ini lebih parah adalah, orang2 yang dengan “sengaja” terumbar kegiatannya ini tidak menyadarinya.. atau menyadarinya tapi cuek. Kalau hal yang terumbar ini baik tentu saja tidak menjadi masalah. Kalau ternyata yang terumbar ini kategori aib gimana? Atau terumbar hal yang bisa menyeret perang dunia ketiga? Berantem dengan Pacar, Isteri, Tetangga Saudara dan semuanya :D

Contohnya sederhana seperti ini (Kedua orang ini adalah Aktifis Media Sosial). Ada teman anggaplah namanya Bambang (bukan nama sebenarnya). Si Bambang ini pamitan mau ke Jawa Timur, mau nengok simbahnya. Bambang pamitan dengan Pacar Keduanya Ina namanya (anggap aja namanya itu). Karena Bambang ini emang terkenal jujur sama Pacar keduanya ini… keluarlah ijin dan Bambang berangkat.

Tetapi Bambang sebenarnya punya niatan lain, dia sebenarnya mau Having Fun ke Bali. Akhirnya Bambang berangkat ke Bali dan Having Fun disana. Bambang tak lupa membuat dokumentasi lewat layanan2 onlinenya.. Dia uplod gambar di Instagram, Facebook, Flickr, Check in di Foursquare dan lain sebagainya. Bambang anggap itu wajar dan tak ada apa apa.

Tetapi dengan kecerobohan tingkat dewa ini, Mbak Ina ternyata memantau pergerakan Bambang dan dengan mudah membaca dari informasi2 yang Bambang berikan dan terbagikan ke semua teman2 dan juga masyarakat online secara umum. Akhir cerita bisa sampean teruskan sendiri mau Hepi Ending atau War Ending :D

Itu contoh sederhananya. Akan tetapi bisa menjadi lebih kompleks lagi. Misalhkan kita dengan layanan Media Sosial ini semacam Facebook yang mempunyai tracking kegiatan warga (pengguna) tingkat dewa ini bisa membagi apa yang dilakukan teman2 Facebook. Informasi2 semacam Teman saya barusan Likes Halaman apa, barusan baca berita apa dan lain sebagainya…. semuanya ter umbarkan.

Percaya jika kita merasa sudah menjaga privasi dengan memasang pagar rumah setinggi langit dan mengunci setiap pintu gerbang, akan tetapi di ranah maya dibuka lebar2 tanpa tedeng aling2

Semua kembali ke kalian yang luar biasa.. mau tetap eksis atau mau hapus semua layanan sosial media atau bijak membaca aturan main dan berbagi yang perlu2 saja…

0 thoughts on “Sadarlah dan Sadarkah Kawan?

  1. Karena itu saya sudah setahun lebih nggak login ke Facebook dan Twitter :-) Jadi ingat kalau saya harus mengganti settingan privasinya.

    Sekarang pun para penegak hukum bisa menggunakan Facebook dan Twitter untuk mengungkap sebuah kasus.

  2. Informasi yang bagus, kebanyakan pengguna jejaring sosial rata-rata anak remaja, mereka posting apapun di akun miliknya tanpa menyadari dampak dari tulisan mereka. Ada baiknya berbagi informasi yang bermanfaat di facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya supaya bermanfaat untuk semuanya.

  3. Kebanyakan yang menggunakan jejaring sosial nie anak muda yang masih labil ya akhirnya begitu deh, kebanyakan sering kali mengumbar aib dibandingkan kreatifitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *