MENCARI orang-orang yang bersalah adalah perkara sulit di negeri ini. Tetapi yang lebih sulit lagi adalah menemukan orang-orang yang mengaku bersalah, terutama di kalangan elite dan mereka-mereka yang memiliki pengaruh di lingkungan politik.
Dalam keseharian bisa ditemukan dengan kasat mata dan masuk akal perbuatan yang melabrak aturan dan kepatutan. Tetapi yang paling mudah menerima kesalahan dan dipersalahkan adalah orang-orang kecil.
Bagaimana dengan para petinggi dan elite? Kelompok yang satu ini, apalagi elite politik, kesalahan haram untuk dialamatkan. Padahal kita semua tahu malapetaka yang menimpa bangsa ini berasal dari kesalahan dan dosa mereka.
Untuk kelompok ini tidak berlaku asas fakta adalah suci. Bagi mereka argumen lebih penting dari fakta.
Tetapi di tengah arus kemunafikan besar elite negeri, masih ada seorang anak manusia bernama Amien Rais yang bertindak ‘aneh’. Yaitu mengaku dengan terus terang menerima dana Rp400 juta dari Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan yang kini duduk sebagai terdakwa dalam kasus korupsi.
Dengan kepintaran, pengetahuan, dukungan politik yang dimilikinya Amien bisa saja membantah mati-matian, seperti banyak dilakukan tokoh dan lembaga terhormat lainnya.
Tetapi Amien lebih memilih mengaku daripada membantah. Fakta lebih suci dari argumen. Kejujuran lebih berharga daripada penipuan dan pemutarbalikan.
Kita yakin, Rokhmin Dahuri tidak sedang berbohong di pengadilan ketika membuka nama-nama dan lembaga yang menerima aliran dana dari departemen yang dipimpinnya. Dana itu mengalir ke sejumlah tokoh penting, sejumlah anggota DPR, sejumlah partai politik dan sejumlah tim sukses presiden pada Pemilu 2004.
Tetapi dari semua yang disebut Rokhmin, cuma Amien Rais yang berterus terang mengaku telah menerima dana itu. Yang lain membantah mati-matian dengan berbagai argumen seolah-olah mereka adalah malaikat. Padahal menurut catatan Rokhmin, semua calon presiden waktu itu menerima kucuran dana nonbujeter tersebut.
Malapetaka dalam dunia penegakan hukum dan keadilan di Indonesia berakar pada watak elite bangsa yang munafik. Politik telah dimaknai oleh para elite sebagai wilayah kekebalan. Di sana segala dosa disembunyikan dan disucikan dan dicuci. Mirip money laundering.
Pemaknaan politik seperti ini berdampak sangat dahsyat bagi hukum dan keadilan karena dari wilayah politiklah lahir pemegang kekuasaan yang mengendalikan harkat hidup orang banyak. Adalah mimpi bila calon pemimpin yang dilahirkan di lingkungan parpol yang berwatak tukang tadah, memelopori kejujuran dan keterusterangan. Melawan kemunafikan.
Amien Rais telah melawan kemunafikan yang lama diterima dan dipiara di dalam lingkungan perpolitikan Indonesia. Tetapi keberanian dan kejujuran Amien ini tidak banyak manfaatnya kalau hanya muncul dari Amien seorang.
Di antara mereka yang disebut Rokhmin menerima dana haram itu, beberapa di antaranya dikenal sebagai orang-orang yang sangat moralis. Tetapi, mengapa baru Amien Rais yang mengaku? Dimanakah mereka yang lain meletakkan nilai kejujuran dan keterusterangannya?
Kalau Amien Rais nanti masuk bui karena kejujurannya, lalu bagaimana dengan yang menerima tapi tidak mengaku? Kalau kejujuran dihukum, apakah ketidakjujuran diberi penghargaan?
Elite kita telah menderita penyakit kemunafikan yang luar biasa. Itu disebabkan kita sudah kehilangan etika hampir di segala bidang, apalagi politik.
Hormat bangsa ini patut diberikan kepada Amien Rais.
SRC: http://www.media-indonesia.com/editorial.asp?id=2007051608555301













#1
Nofie Iman
May 18th, 2007 at 12:35 amDi bukunya, Making Globalization Work, Joseph Sitglitz menulis soal mekanisme check and balance terhadap pemerintah tanpa adanya ketakutan para kritikus dan oposisi dipenjara atau dilenyapkan. Di beberapa media, pernah saya baca usulan serupa untuk diterapkan di Indonesia.
Ide tersebut memang bagus, hanya saja terasa satir. Memandang kualitas dan kompetensi birokrat dan politisi di Indonesia masih memprihatinkan. Kita nggak bisa mengasumsikan bahwa pemerintah semata-mata altruistik dan kompeten. Kita memang perlu politisi yang berani melawan kemunafikan. Tapi selama rasionya masih 1:10.000 atau bahkan lebih, kita mungkin belum bisa berharap banyak.
Indonesia negeri yang unik. Sudah 60 tahun merdeka namun tak terlalu banyak perubahan. Lalu bagaimana mengatasinya? Kalau tahu, saya udah jadi presiden.
Kita orang Indonesia memang nggak kenyang-kenyang ngomong politik…
#2
Jauhari
May 18th, 2007 at 2:18 pmDi Indonesia Mau Tidak Mau POLITIK menjadi salah satu MESIN UANG… orang yang mulai terjun di POLITIK biasanya mulai dari NOL dan akhirnya BERGELIMANG HARTA
Tanya kenapa?
#3
Kang Kombor
Saat ini kita sedang berada di zaman di mana kehormatan didapatkan seseorang karena drajad, pangkar dan hartanya sehingga kejujuran tidak mendapat tempat. Kalau orang Jawa bilang, untuk zaman kalabendhu seperti sekarang ini:
sing jujur ajur (yang jujur hancur),
sing blaka cilaka (yang mengaku celaka),
aluwung dadi wong kinurmatan merganing kuwasa lan arta (lebih baik jadi orang terhormat karena kekuasaan dan uang).
Selamat Pak Amien Rais. Saya tidak menyesal dulu mengompori teman-teman di kantor agar memilih Anda sebagai presiden.
#4
kuman
ha…ha… presiden kok gitu yah…childish…lihat bahasa tubuhnya ….wajahnya….mbok yah…sing sabar terima kritik…
pake didampingi hatta rajasa yang notabene kader PAN segala…. .. memperlihatkan… kalau tak yakut pada siapapun ???? ha…ha…
makanya pilih pemimpin yang jujur…… Hati nurani lebih penting daripada popularitas…….. puas…puas….. !