Dua Salam dari Korea Jaman Dahulu yang Masih Eksis sampai Saat ini

Kamis 5 Januari 2016 kemarin, kami mendapatkan undangan Seminar Pertumbuhan Perekonomian Desa di Korea Selatan Melalui Saemaul Undong yang menghadirkan Prof. Dr. Yang Seung Yoon. Beliau adalah (Guru Besar di Hankook University of Foreign Studies, Korea Selatan & Dosen Tamu Universitas Gajah Mada, Yogyakarta).

Dalam Seminar di Balai Desa tersebut, Mbah Professor tadi berbicara kurang lebih satu jam. Kami menyebutnya Mbah karena usianya sudah tidak muda lagi 71 Tahun.

Dalam seminar tersebut, setelah mengucapkan kata-kata pembukaan juga menyampaikan ucapan Salam dalam Islam.

السَّلاَمُعَلَيْكُمْوَرَحْمَةُاللهِوَبَرَكَاتُهُ

Walaupun tidak komplit atau seadanya tapi saya akui usahanya untuk mendekatkan diri dengan audiens bagus dan itu langsung mendapatkan pesan khusus ke audiens yang juga sudah rata-rata berumur.

Prof. Dr. Yang Seung Yoon memberikan salam pembuka
Prof. Dr. Yang Seung Yoon memberikan salam pembuka

Kemudian sebelum masuk materi, beliau juga memberikan bonus bahwa setidaknya ada Dua Salam dari Korea jaman dahulu yang masih dipertahankan sampai sekarang.  Salam yang diucapkan ketika pertama kali bertemu dengan siapa saja, lawan bicaranya.

Salam Pertama: Apakah Sudah Sarapan?

아침 먹었 니?

Salah satu salam di Korea yang masih dipertahankan sampai sekarang adalah pertanyaan Apakah Sudah Sarapan? Ketika bertemu dengan lawan bicaranya.

Ini dikarenakan masa lalu Negara Korea yang pernah dalam kondisi minus atau serba kekurangan. Salam itu untuk lebih mengetahui kondisi lawan bicaranya apakah sehat, ataukah benar-benar belum sarapan sehingga nanti bisa diajak sarapan. Dan ucapan itu sampai sekarang manis dipertahankan dan menjadi semacam budaya.

Salam Kedua: Berapakah Usia Anda?

당신은 몇 살입니까?

Ucapan salam yang kedua adalah menanyakan Usia lawan bicaranya, ketika sudah tau usianya dari lawan bicara dan usianya lebih tua, maka penanya akan memanggil nya Kakak dan begitu juga sebaliknya. Ketika lawan bicaranya Usia lebih dari 10 Tahun, maka penanya akan memanggil nya Orang Tua.

Dalam seminar tersebut Prof. Dr. Yang Seung Yoon menyampaikan banyak hal, dan 3 Hal utama tentang Perekonomian Korea terutama di Desa dan bagaimana nantinya bisa dikembangkan Desa di Indonesia, lebih rincinya Desa Ponjong ini.

Prof. Dr. Yang Seung Yoon menyampaikan materi dengan Penuh Semangat
Prof. Dr. Yang Seung Yoon menyampaikan materi dengan Penuh Semangat

Dalam Seminar tersebut Prof. Dr. Yang Seung Yoon juga menyampaikan sedikit lebih rinci, mulai tanah di Korea yang tidak begitu Subur, dan Kondisi Empat Musim dimana sewaktu Musim Dingin bisa sangat ekstrim, 20 Derajat dibawah Nol, Sedangkan kita di Indonesia dalam kondisi 20 Derajat diatas Nol saja sudah banyak yang teriak2.

Tak heran dahulu banyak Warga Korea yang Mati Kelaparan. Itu terjadi sebelum Tahun 1960, yang mana saat itu kondisinya jauh lebih Miskin 2x dari Negara Filipina saat itu. Tapi sekarang kondisinya sudah bisa dibilang 6x lebih baik dari Negara Filipinan Saat ini, salah satunya berkat Semangat Saemaul Undong.

Pada kesempatan itu Prof. Dr. Yang Seung Yoon, juga menyampaikan cerita tentang Cabe Merah, yang cerita jaman dahulu bahwa pada masa Dinasti2 Korea Cabe Merah di Korea adalah berasal dari Jawa tepatnya kurang lebih pada Abad 16 yang lalu.

Prof. Dr. Yang Seung Yoon juga bercerita bahwa ada Petani Korea Selatan yang ada di Indonesia dan mengembangkan Cabe, namanya dikenal dengan Tuan Bark, tinggal di seputar lereng merapi, Tuan Bark yang dalam bahasa Korea bermakna Taman, jenis Cabe keriting yang konon 10℅ biji2 Cabe Keriting yang ada di Indonesia tersebut berasal dari jerih payah Tuan Bark

Tiga Hal yang disampaikan oleh Prof. Dr. Yang Seung Yoon dalam Seminar Pertumbuhan Perekonomian Desa di Korea Selatan Melalui Saemaul Undong kurang lebih seperti dibawah ini

Petani di Korea Bagaimana, di Korea sebenarnya juga menghadapi masalah urbanisasi, karena banyak anak mudah yang enggan bertani, mereka lebih suka hidup di Perkotaan menjadi Kaum Urban, itu juga menjadi masalah pelik. Belum lagi Tanah di Korea tidak sesubur tanah-tanah di Indonesia, Tanah di Gunungkidul yang di Indonesia masuk kategori tidak subur, itu masih sangat jauh lebih subur dibandingkan tanah di Korea.

Di Korea Tanah di keruk, di kedalaman tak sampai 30cm sudah bertemu dengan Batu, Tanah di Korea itu berbatuan, bisa dibilang dari 100% tanah di Korea, hanya 30% yang bisa dimanfaatkan. Tapi jangan heran, walaupaun hanya bisa panen padi dalam 1 tahun, tapi Korea sanggup ekspor Beras ke beberapa negara salah satunya Malaysia.

Bagaimana Kampung Petani Korea bisa eksis. 51 Juta Penduduk Korea saat ini. Dan Jumlah petani kurang dari 1.6 Juta Jiwa saja. Dimasa kerajaan Kores, Petani masuk kelas menengah sedangkan pedagang masuk kelas bawah.

Do Korea juga menghadapi masalah yang sama dengan China Daratan, masalah yang dihadapi adalah berkaitan dengan hasil pertanian di Korea yang mendapatkan serbuan dari hasil pertanian dari Penduduk China Daratan, belum lagi harganya juga lebih murah 10℅ dibandingkan produk Penduduk Korea sendiri.

Untuk memancing masyarakat Desa tetap bertani, pemerintah melakukan beberapa stimulan kepada para petani, seperti Bebas Pajak tertentu, Harga Jalan Tol lebih murah dan masih banyak lagi.

Bagaimana caranya BUMDes Hanyukupi Desa Ponjong akan bisa berkembang dan membangun Desa Ponjong sebaik-baiknya. Masyarakat Desa Ponjong diharapkan menerapkan Semangat dan Bangga dengan Produksi sendiri sehingga nantinya akan memacu etos kerja dan akan meningkatkan produktifitas masyarakat.

Dalam kajian di Seminar tersebut, Prof. Dr. Yang Seung Yoon juga menyampaikan beberapa kisi-kisi dan harapan, dimana salah satu Agenda Korea di Saemaul Undong di Desa Ponjong adalah dengan memberikan stimulan berupa Konsep Budidaya Sapi Komunal. Yang insya Allah nanti akan bertempat di Dusun Jaten, Ponjong.

Foto Bersama Prof. Dr. Yang Seung Yoon pasca Seminar Pertumbuhan Perekonomian Desa di Korea Selatan Melalui Saemaul Undong
Foto Bersama Prof. Dr. Yang Seung Yoon pasca Seminar Pertumbuhan Perekonomian Desa di Korea Selatan Melalui Saemaul Undong

Selain itu Pihak Yogyakarta telah meminta langsung kepada pihak Korea Selatan untuk menyumbangkan atau memberikan tiga items termasuk cara budidayanya, Buah Strawberry(Stroberi), Buah Pear (Pir) dan Tanaman Ginseng. Dan Pihak dari Korea Selatan telah menyetujui untuk memberikan bantuan tersebut.

Prof. Dr. Yang Seung Yoon bersama Mr Hong dan Pak Lurah Arif Al Fauzi
Prof. Dr. Yang Seung Yoon bersama Mr Hong dan Pak Lurah Arif Al Fauzi

 

Sebuah wejangan yang menarik dan patut kita tiru dan lakukan pada Desa di Indonesia ini. Gerakan Saemaul Undong menurut kami adalah gerakan sederhana tapi dilakukan dengan Semangat dan Etos Luar biasa, jadi kesuksesan sudah menanti disana. Mereka (Korea) bisa, saya rasa Kita (Indonesia) jauh lebih bisa.

Dalam Seminar Pertumbuhan Perekonomian Desa di Korea Selatan Melalui Saemaul Undong tersebut MC dibawakan oleh Mas Anang Sutrisno, dan dihadiri oleh Masyarakat, Anggota BUMDes, Pak Lurah Arif Al Fauzi, Pemerintah Desa Ponjong (Pak Budiman Setyanugroho, Pak Suryono, Dukuh Tumiyo dan masih banyak lagi)

1 thought on “Dua Salam dari Korea Jaman Dahulu yang Masih Eksis sampai Saat ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *